Volume

volume of revolution

Kembali Bermula

Benarkah tiba di 1430 H karena 1414 H baru saja ditulis kemarin rasanya.

Benarkah 16 tahun berlalu sudah, ingat setiap lembar buku itu berjejer dua angka 14.

Benarkah kini adalah kini, beribu hari berlalu setelah masa itu padahal impian yang terajut masih belumlah terurai panjang.

Dimana jiwa berada

Dimanakah gegas yang kucipta

Saatnya kembali semula, dalam sujud panjang harapan dan do’a

Hari ini jalan berawal dititik 1430 H

Mari….

*Lexington, 1 Muharram 1430 H

Aku Mencintaimu Tanpa Tapi

Akuilah bahwa kau mencintainya!

Iya sih, tapi dia suka memaksakan kehendak, dia suka mengatur, dia ingin aku begini dan begitu, aku lelah, cape entah…

Ah jangan kotori cintamu dengan uraian kalimat setelah tapi itu. Karena diapun mencintaimu tanpa tapi. Tak dibiarkannya tangis jatuh dari kelopak matamu, rasa sakitmu derita panjangnya, tertawamu bahagia yang tak berkesudahan untuknya. Harapnya adalah jiwamu untuk melangkah dan meniti. Inginnya adalah semangatmu untuk berjalan dan berlari. Coba pikir dan rasakan dengan hati!

Ah….betapa aku akan mencintainya, dengan segala kediaannya. Aku mencintainya karena dia aku ada, karena begini dan begitunya dia adalah hirupan lega nafasku kini. Aku mencintainya karena dia adalah jiwa yang mengalir deras dalam aliran hidupku, aku mencintainya karena dia adalah raga yang mengkokohkan derap langkahku. Ya, aku mencintainya.


Katakanlah padanya, segera!

“Ibu, aku mencintaimu tanpa tapi”

Untukmu, untukku dan untuk mereka, Selamat Hari Ibu!

"Bayi"

Kemarin sambil menggendong si bungsu yang sedang tidak sehat, saya coba nonton Film Juno, mungkin sudah pada nonton ya, ini kan Film tahun lalu. Film ini berkisah tentang seorang anak remaja putri (Juno, 16thn) yang hamil. Awalnya Juno berniat menggugurkan kandungannya, tapi kemudian dia refused niatnya tersebut dan akhirnya mempertahankan bayinya dengan niat setelah bayinya lahir akan diberikan kepada orang tua yang sangat menginginkan anak tapi belum diberi kesempatan memilikinya, kata lain cari pasangan yang mau mengadopsi.

Anyway, saya tidak akan menceritakan film itu, saya hanya teringat tentang kebebasan sex anak remaja di sini (amrik maksudnya).

Saya pernah tinggal selama 2,5 thn di Massachusetts, negara bagian “paling sekuler” kalau kata orang-orang. Yang membolehkan pernikahan gay dan melegalkan aborsi. Saya tinggal di salah satu kota kecil, Amherst. Kota yang hampir setengah bagian penduduknya adalah mahasiswa.

Di Amherst ini ada sebuah SMA, salah seorang counseling disekolah ini kebutulan teman saya. Beliau seringkali bercerita tentang siswanya, anak-anak yang memiliki “segala” kebebasan termasuk sex. Bahkan ada yang disebut “predator”, sang kakak (laki-laki) yang mengadakan pesta dan menjadikan adik perempuannya sebagai “suguhan” terhadap teman-temannya, mengerikan. Mungkin mereka juga tidak khawatir akan kehamilan toh akhirnya bisa diaborsi, naudzubillah hi mindzalik. Siswa juga mendapatkan pendidikan sex lengkap dari a-z, proses dan akibat.

Lalu teman saya berkisah, bahwa sekolah menyediakan sebuah boneka bayi yang mirip dengan bayi manusia, yang akan menangis ketika lapar, pipis dsb. Anak-anak SMA tersebut akan mendapat giliran untuk membawa bayi ini kemana-mana, ke sekolah, di rumah diurus dll. Tujuannya biar siswa tahu dan mengerti betapa besar tanggung jawab mengurus bayi itu, dan tentu saja cape dan lelah sedangkan bayi butuh perhatian kapan saja dan dimana saja. Diharapkan siswa itu berfikir dulu sebelum melakukan sex bebas, karena akan mengakibatkan kehamilan dan bayi itu harus diurus seperti si boneka tadi (lo tapi kan kalaupun hamil masih boleh diaborsi, naudzubillah hi mindzalik). Hasilnya bagaimana saya tidak tahu lagi, belum ngobrol lagi dengan teman tersebut.

Sekarang saya tinggal di Kentucky, state yang “tenang”. Disini pernikahan gay tidak boleh, aborsi juga tidak legal, Gereja banyak, layaknya Masjid di Indonesia, kegiatan keagamaan marak. Tapi sex bebas mah tetep, anak remajanya juga.

Disini saya tidak punya teman counseling tapi punya teman yang memiliki anak SMA. Sewaktu kelas 2 SMA, dia dan teman-temannya diberi tugas membuat “bayi”. Bayi ini terbuat dari 5lbs tepung terigu (bentuknya kotak), yang bibuatkannya kaki, tangan, dipakaikan baju dsb. Si “bayi” ini juga dibawa kemana-mana, tapi kan tidak “hidup” seperti bayi di SMA Amherst sana, jadi bisa hanya dibiarkan saja di tasnya. Tujuannya mungkin yang sama.

Mereka kreatif menciptakan ide untuk memberikan pengetahuan kepada anak-anak remaja salah satu akibat hubungan sex. Tapi hasilnya seperti apa, entahlah. Padahal menurut saya solusinya itu agama, agama dan agama. Islam tepatnya.

Dan ternyata juga kehidupan sex bebas para remaja ini bukan hanya terjadi di Amerika, di Indonesia juga sudah “biasa” sepertinya, tersembunyi ataupun terungkap, duh.

Ini ada link bagus yang cukup berkaitan dengan cerita saya diatas. Tulisan ibu Elly Risman di Republika dan Tanya Jawab konsultasi parenting dengan teman-teman di Belanda

http://liasaja.multiply.com/links/item/3

http://liasaja.multiply.com/links/item/4

Parenting 101 (Second Session) by John Rosemond

Yang ini lebih sering mengangguk-angguknya daripada mengernyitkan dahi😀. So??? please write your opinion, lets share!

This is Part 2 and the conclusion of Parenting 101, an overview of the fundamentals of effective parenting. Last week’s class dealt with such basics as having a more active relationship with your spouse than you have with your children, saying “No” more than “Yes,” and the much overlooked fact that the discipline of a child is accomplished through the conveyance of proper leadership, not reward-ship or punishment-ship. Having built a strong foundation, we will now move into a set of specifics that are equally essential to raising a child who will be well-equipped to deal successfully with the realities of independence. After all, the purpose of raising a child is to get him or her out of your life and into a life of his/her own.

1.) Put yourself at the center of your child’s attention, not the other way around. It is a simple matter to discipline a child who is paying attention to you and nigh-unto impossible to discipline a child who is not. In that regard, always keep in mind that the more attention you pay a child, the less attention the child will pay to you.

2.) Put your child into a meaningful role in your family, one that is defined in terms of responsibilities known as chores (remember them?). By the time your child is 4 years old, he should be contributing significant time and effort on a daily basis to the maintenance of the household. Your child’s chores should not be assigned haphazardly, but should be established as a routine. In addition to picking up after himself and keeping his own living space clean and orderly, he should be working in “common areas” of the home, doing such things as dusting and vacuuming. You do tell people that your child is gifted, do you not? Without chores, a child is a mere consumer, on a perpetual entitlement program, and entitlements do not strengthen people or culture. Grow a strong child!

3.) Keep television and other electronic media out of your child’s life until your child has learned to read well and is self-entertaining. The research is clear that electronic media shortens attention span, interferes with the development of certain critical thinking skills, and develops a dependency that leads to frequent complaints of boredom. Remember that an average of just two hours of “screen time” a day means your child is absorbing electronic stimulation to the tune of 730 hours a year. That’s the equivalent of eighteen 40-hour work weeks! Think of the creativity that’s being lost! Grow a child with a strong brain!

4.) From day one, keep clutter out of your child’s life by keeping toys and other “stuff” at a minimum. Paradoxically, children who entertain themselves well (low-maintenance children) tend to have few toys. These children are also more grateful for and take better care of what they have. Grow an imaginative, creative child!

5.) Emphasize manners, not skills. Sixty years ago, most children came to overcrowded first grades not knowing their ABCs, yet at the end of the year were reading at a higher level than today’s kids, most of whom are already reading in kindergarten. That happened because parents of sixty years ago taught proper behavior, not skills; therefore, teachers taught skills, not proper behavior. Grow a polite child!

6.) Love your child enough to do the first ten. Grow a happy child!

Family psychologist John Rosemond answers parents’ questions on his website at http://www.rosemond.com.

Copyright 2008, John K. Rosemond

*About the Author: Rosemond has written nine best-selling parenting books and is one of America’s busiest and most popular speakers, known for his sound advice, humor and easy, relaxed, engaging style. In the past few years, John has appeared on numerous national television programs including 20/20, Good Morning America, The View, Bill Maher’s Politically Incorrect, Public Eye, The Today Show, CNN, and CBS Later Today.

Parenting 101 by John Rosemond

Ini saya copas dari washingtontimes.com. Ada dua sesi course dan ini yang pertama. Awalnya saya terheran-heran dengan beberapa pendapat beliau ini, tapi sisi lain juga mengangguk-angguk. Silahkan baca sendiri, dan bagaimana pendapat anda?

Welcome to Parenting 101, a two-part introduction to the fundamentals of effective child rearing. You will have acquired what it takes to raise children who are mannerly, self-disciplined and do their best in school.

As you will see, the fundamentals in question do not include various clever means of manipulating reward and punishment. If to this point, parenting has not been a relatively simple, easy-going affair, your problem is your attitude and your point of view, in which case, you signed up for the right course.

• If you are married with children, put your marriage first. Your relationship with your spouse should be considerably more active than your relationship with your children. You should pay more attention to your spouse, talk more to your spouse, do more for your spouse, and spend more time with your spouse than you pay, talk, do and spend with your kids.

There is, after all, nothing that more effectively secures a child’s sense of well-being than knowing his parents are taking care of their relationship.

• If you are single with children, have lots of interests outside of your interest in your children. Have hobbies, friends, activities and a job that take your attention away from your kids. In so doing, you will become interesting to them. They will have greater respect for you, and they will pay you more attention. Whether married or single, be the center of your children’s universe as opposed to letting them be the center of yours.

• By the time your children are 3 years old, you should build a boundary between yourself and them, one that limits their access to you. Let them know you are not at their beck and call, that you have a life beyond being their mother or father, and insist they respect your privacy.

• Say “no” more than you say “yes.” Actually, the proportion should be at least five to one. The only children who can’t take “no” for an answer have parents who do not say it often enough and cannot say it with conviction.

• Put the horse of leadership in front of the cart of relationship. The secret to effective discipline is not manipulating consequences cleverly; rather, it is assuming a posture of loving leadership in their lives.

Leadership is a simple matter of acting like you know what you’re doing, know where you’re going, know what you want and know you are going to get it. That translates to a calm, confident, casual parenting style.

Berita Gembira

Belakang: Ki-ka; Yuyu, Poppy, Lia. Depan; ki-ka: Ira,Novi

Alhamdulillah hari ini telah lahir lagi ponakan baru, Yuyu (www.yuyuhn.multiply.com) sudah melahirkan putri ke-2nya tadi pagi jam 6 WIB, ibu dan baby sehat alhamdulillah. Dua minggu lalu Ira, melahirkan anak ke-2nya juga, tapi putra. Hampir sebulan lalu Poppy mengakhiri masa lajangnya dan berharap segera dapat momongan. Alhamdulillah berita-berita membahagian. Semoga generasi penerus itu menjadi anak-anak sholeh dan sholehah, buah mata ayah bundanya, pembela bangsa dan agamanya. Amiin.

Sewaktu jaman kuliah dulu kami berkarib berlima, kuliah di fakultas yang sama, Fikom Unpad’95 tapi jurusan yang berbeda, hanya Ira dan Novi yang jurusannya sama. Entah kesamaan apa yang kami miliki hingga akhirnya cocok bersama, entah kesukaan makan pake tangan, atau nongkrong dibelakang gedung sate, atau daya khayal kami yang suka melambung jauh sampai melebihi tingginya angkasa itu yang sama. Yang jelas ini teman kampus yang bermain diluar kampus, dalam kampus jarang bersama karena berbeda jam kuliah.

Waktu mudik kemarin, Elba, suaminya Yuyu bilang bahwa dia sempat “meramalkan” bahwa urutan menikah kami bakal tergantung urutan lulus kuliah hihi ada ada sajah. Tapi ternyata iya. Saya lulus Nov’99, Yuyu dan Ira 2000, terus Poppy dan selanjutnya Novi. Saya menikah 2001, terus Yuyu, Ira dan kemarin Poppy jadi tinggal Novi segera menyusul Insha Alloh. Nah jumlah anak saya nih yang belum disusul, mereka baru sampai angka-2 hihi.

Jadi…lebaran Idul Adha senin ya? alhamdulillah (ini postingan teh kemana2 gini hehe, punten ah). Selamat Idul Adha ya, semoga bisa menjalakan syaum arafahnya, bisa berqurban dan menikmati indahnya berqurban. Kami disini juga dengar gosiip sih mau potong kambing ditetangga .

Ps: poto diatas diambil belasan taun laluuuuu sekarang sudah berubah semuaaaa

Watch Math

I have created watchmath website in order to collect math video resources accross the web in one place.

You can visit it to have a feel what it is about.

How to Put Google Analytic Code in Joomla

Here is how it works

1) Go the Joomla backend

backend1

2) Extensions –> Template Manager

extensions

3) Double Click the tempate that you use right now

template

4) Click Edit html on the top right menu

edithtml

5) Put the analytic code that you get from google just right before the tag </body>

analytic

Mainan Canggih

Ketika datang ke US awal tahun 2005 lalu, saya langsung dikenalkan dengan blogspot oleh seorang teman, lalu bermain-mainlah saya disana. Menulis, berbagi dan berteman. Kehilangan teman secara fisik karena menjauh cukup terobati walaupun tidak bisa menggantikan posisi teman nyata itu. Lalu seorang sahabat membawa berita baru, sang Friendster (FS) “kamu bisa menemukan teman2 SMP atau SMA-mu lo, aku aja langsung ketemu temen2 lama sampai temen SD aja ada” katanya. Sign in lah saya di FS, tapi sayang teman2 SD-SMA tidak saya temukan ketika itu, hingga akhirnya jarang dibuka dan hampir terlupakan. Kemudian diajak lagi ke Multiply (MP) “asik lo” ujarnya. Karena awalnya iseng saja maka ketika sign in di MP pun pake id liasaja, maksudnya liasaja lah susah susah amat😀, pun diniatkan buat nulis tentang sendiri saja, karena cerita anak2 dan lain-lain ada di blogspot. Eh rupanya di MP makin seru karena selain bertemu teman-teman kuliah juga ada alert-nya jadi mudah untuk menelusuri dan mengunjungi, atau bahkan bisa baca postingan teman-teman melalui email yang datang.

Kurang lebih setahun lalu, ketika saya pindah ke Lexington, teman di Amherst ngajak untuk sign in di Facebook (FB), saat itu saya menggunakan imel lama yang ternyata malah kena spam hingga tidak bisa log in. Akhirnya si FB pun tidak terurus, tapi sesekali pergi kesana kalau sang teman memberi tahu kalau beliau punya foto2 baru dsb.

Sekitar sebulan lalu, saya disapa seorang teman SMP di FS, akhirnya ada juga. Lalu dari beliau mulai merambat menemukan teman lain, terus bertambah ke teman SMA jadi enjoy bermain kembali di FS dan ceting sama teman2 SMP-SMA, senangnya bisa bernostalgia lagi.

Seminggu lalu, ceting dengan teman kuliah, beliau baru saja menikah, foto2 ada di FB, katanya. Larilah saya kesana, ya dalah ternyata ck…ck…FB rame pisan, banyak orang dan banyak pernak perniknya pun saya punya ratusan request yang tidak terjamah selama ini, duh punten banget. Tapi sepertinya FB lebih kompleks ya, akan makin nambah kerjaan aja hehe, seru sih sepertinya.

Gimana bagi2 waktunya ya? teman disana disini menyapa dan harus kembali disapa dan memang sayapun ingin mengirim sapaan, ingin ngobrol. Walaupun dimana2 banyak teman yang sama tapi juga di masing2 ada teman yang berbeda2.

Ah ternyata mainan maya ini tidak ada habisnya…
*heyyyy buuuuu anak-anak minta makan tuh! come on get up from your seat now!!!*

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.